Chat GPT: Mengeliminasi Peran Guru?

Uploaded by ZakaFahmi

May 9, 2023

Chat GPT: Mengeliminasi Peran Guru?

Oleh: Rio Estetika

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

 

Perangkat software komputer saat ini telah sampai tahapan perkembangan yang begitu pesat. Pola digitalisasi semakin terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Dunia pendidikan juga tak luput dari digitalisasi tersebut. Salah satu perkembangan terbaru adalah kehadiran Generative Pretrained Transformer (Chat GPT) sebagai sistem kecerdasan buatan untuk mempermudah proses komunikasi antara manusia dengan teknologi, khususnya dalam hal bahasa dan pemahaman teks. Chat GPT merupakan sistem kecerdasan buatan yang mampu memberikan respons otomatis berdasarkan input yang diberikan. Sistem ini menggunakan teknologi Natural Language Processing (NLP) yang memungkinkan Chat GPT untuk memahami bahasa manusia dan memberikan respons yang relevan dengan pertanyaan atau pernyataan yang diberikan. Chat GPT memiliki potensi besar mengubah paradigma praktis dunia pendidikan. Sejalan dengan kemampuan yang dimilikinya, muncul pula perdebatan tentang apakah teknologi seperti Chat GPT dapat mengeliminasi peran guru dalam proses belajar mengajar.

Chat GPT memiliki kemampuan untuk menggantikan peran guru dalam memberikan materi pembelajaran dan membantu menjawab pertanyaan dari siswa. Sebab, Chat GPT dapat memberikan respons yang cepat dan akurat berdasarkan data yang telah dipelajari sebelumnya. Selain itu, Chat GPT juga mampu memberikan feedback secara individual dan personal, yang mungkin sulit dilakukan oleh guru pada setiap siswa.

 

Di sisi lain, masih banyak proses-proses pembelajaran yang tidak bisa digantikan oleh teknologi. Misalnya pembentukan adab dan karakter. Peran guru dalam membimbing, memotivasi, dan mengembangkan potensi siswa merupakan hal yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Selain itu, guru juga dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan menyenangkan dengan memanfaatkan teknologi sebagai salah satu media pembelajaran. Pemanfaatan Chat GPT dalam dunia pendidikan bukanlah hal yang sepenuhnya baru. Beberapa sekolah di beberapa negara sudah memanfaatkan Chat GPT sebagai sistem pembelajaran tambahan bagi siswa. Namun, pemanfaatan teknologi ini masih dianggap sebagai pelengkap atau bantuan bagi guru, bukan sebagai pengganti peran guru itu sendiri. Maka dari itu, perdebatan tentang apakah Chat GPT dapat mengeliminasi peran guru dalam dunia pendidikan masih terus berlanjut. Meskipun teknologi seperti Chat GPT memiliki kemampuan yang sangat canggih, namun peran guru dalam membimbing, memotivasi, dan mengembangkan potensi siswa tetap menjadi hal yang harus diprioritaskan.

Baca juga :   Penerapan Teknologi Informasi Pada Sektor Pertanian di Era Society 5.0 by Aulia Putri Zubair

Guru hari ini perlu segera meng-upgrade diri dan kompetensinya, karena adanya digitalisasi pada ilmu pengetahuan membuat segala macam informasi dapat diakses dengan mudah dimanapun dan kapanpun. Bila jangkauan pengetahuan guru sempit maka, perannya sebagai sumber ilmu akan tergantikan oleh perangkat teknologi seperti Chat GPT. Sehingga, besar kemungkinan peran guru dalam transfer informasi dan pengetahuan akan terkalahkan dengan Chat GPT dalam kecepatan dan keakuratan. Menghadapi problema tersebut, guru bisa saja mengkolabirasikan pembelajarannya dengan Chat GPT, namun dengan catatan tidak menjadikan Chat GPT sebagai sumber utama. Jika terlalu bergantung pada Chat JPT, sama saja akan menimbulkan stagnasi berfikir, karena semuanya didapatkan secara instan tanpa melalui proses liku-liku belajar. Proses sangat penting untuk menciptakan kesan belajar yang bermakna. Bukankah sesuatu akan lebih abadi jika punya makna?

Sebagai kesimpulan, penggunaan perangkat lunak seperti Chat GPT dalam dunia pendidikan dapat memberikan kegunaan yang besar bagi proses belajar mengajar. Namun, hal tersebut tidak serta merta dapat mengeliminasi peran guru dalam dunia pendidikan. Peran guru dalam membimbing, memotivasi, memberi keteladanan, menumbuh kembangkan minat bakat tidak dapat dieliminasi oleh teknologi apapun. Karena pada dasarnya pembentukan tri kompetensi peserta didik (kognitif, afeksi, psikomotor) perlu juga melibatkan aspek spiritualitas. Aspek tersebut merupakan teknologi dari Tuhan yang paling canggih hingga akhir dunia. Sementara teknologi hanyalah bagian dari kemajuan kognisi manusia yang terus berkembang sejalan peradaban dan kebutuhan  manusia. 

 

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *