Perkembangan Teknologi terhadap Kemajuan Alutsista Dunia dan Dampak yang di Timbulkan
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!
Oleh: Rejja Pahrepi
Sekolah Tinggi Ilmu Hukum IBLAM
Sebelum berakhirnya era perang dingin, umat manusia sudah terlebih dahulu dihadapkan oleh berbagai peristiwa yang mengubah alur peradaban dunia. Perang Yarmuk antara Islam dan Kristen, Perang Yerussalem I dan II, Perang antara Islam Turki Usmani melawan Kekaisaran Byzantium hingga di era modern Perang Dunia I dan Perang Dunia II mewarnai sejarah perang umat manusia dari zaman ke zaman, dari peralatan yang sangat sederhana dengan berkendaraan kuda, menghancurkan dinding dengan meriam, menembus jantung musuh dengan panah, membakar batalion dengan bola api besar, membenamkan gerbang kerajaan dengan lembing kayu. 
Tiba lah saatnya otak manusia menginovasi berbagai macam struktur kecil, struktur itu membentuk partikel sekecil debu namun dapat meluluhlantakkan peradaban yang sudah lama terbangun. Ya, realitas membuktikan bahwa manusia dengan segala keterbatasan yang di miliki dapat mengembangkan teknologi, manufaktur, keamanan siber, hingga jaringan instalasi antar wilayah yang kemudian di implementasikan secara menyeluruh di bidang militer. Orang tidak akan membuang-buang waktu dengan berjalan kaki dan berlari untuk membuat musuh terkapar dengan pedang, tidak ada lagi eksploitasi hewan untuk tunggangan para prajurit, tidak ada lagi lembu berbadan besar untuk menarik meriam. Membuat musuh terkapar hanya tinggal menarik pelatuk senapan atau lebih mudah lagi meluluhlantakkan lawan dengan Rudal Balistik yang daya ledaknya dapat membuat separuh Washington berada dibawah laut.

Negara-negara dengan kekuatan finansial tinggi yang tentunya akan gencar dan berlomba-lomba memperbaharui senjata mematikan mereka, uang akan selalu berbicara dimanapun, kemajuan teknologi yang semakin hari semakin dinamis membuat suatu negara mau tak mau menggelontorkan dana lebih demi membuat alutsista mereka semakin canggih. Amerika tentu tidak ingin China atau Rusia meratakan Washington dan Newyork dalam hitungan menit. Zaman sekarang Damai hanyalah sebuah mantra membingungkan, negara berlomba-lomba menunjukkan bahwa mereka mempunyai militer yang kuat dan ditakuti. Konfrontasi-Konfrontasi antar negara selalu menjadi pembuka berita di pagi hari atau di kabar dunia tengah malam. Dulu, kedigdayaan Jerman dengan Nazinya dan Kediktatoran Adolf Hitler tidak mampu membendung Raksasa Timur berjuluk Tirai Besi bernama Uni Soviet. Keserakahan seorang Afolf Hitler di nilai menjadi pemicu kekalahan Jerman pada saat itu, ambisi gilanya untuk menguasai seluruh Eropa ternyata hanyalah sebatas utopia belaka bagi Hitler, Uni Soviet meratakannya di Stalingrad berkat kepiawaian seorang Josef Stalin.

T-54/55 adalah Tank terlengkap buatan Soviet pada zaman itu, segala sisinya tidak akan membiarkan musuh mendekatinya walaupun sejengkal dengan di lengkapi berbagai senjata mesin canggih. Amerika menggelontorkan 13.000 triliun lebih untuk membangun dan mengupgrade militernya di tengah kemelut dengan China dan invasi Rusia jumlah itu mencapai lebih dari setengah GDP Indonesia. Jadi tidak heran bahwa uang sebanyak itu bisa membeli teknologi mutakhir dalam segi alutsista, pesawat angkut jenis C-5 Galaxy contohnya, menjadi pesawat transport terbesar dan di buat dengan berbagai varian jenis. Dengan kucuran dana besar itu Amerika akan lebih nyaman dan leluasa dalam menciptakan inovasi yang tidak pernah ada dalam sejarah alutsista dunia.

Di tengah kemelut perang di berbagai belahan dunia, teknologi dapat menjadi boomerang dan digunakan beberapa pihak untuk kepentingan politis mereka maupun kepentingan lainnya, senjata pemusnah massal, senjata kimia, senjata hidrogen dan biologi dapat menjadi pisau bermata dua yang dapat memusnahkan entitas kehidupan di bumi. Teknologi dalam militer sebenarnya sangat riskan bila di gunakan bukan untuk kepentingan perdamaian maupun untuk menjaga kedaulatan. Dia bisa menjadi bom waktu yang kita tidak akan tahu kapan itu akan meledak menimbulkan kehancuran yang masif. Ditambah sifat tamak manusia yang sedari dulu tidak pernah berubah dan ya memang itu sudah menjadi bagian dari manusia yang permanen.

Tentu kita tidak ingin anak cucu kita dan generasi masa depan terkena dampak dari teknologi militer yang keluar dari ranahnya yaitu untuk menjaga kedaulatan. Dampaknya pun sudah kita rasakan di zaman sekarang dan berpengaruh bagi keberlanjutan kehidupan umat manusia kedepannya. Perang antara Armenia dan Azerbaijan, ancaman agresi Tiongkok terhadap Taiwan, Invasi Rusia terhadap Ukraina yang di khawatirkan akan menjadi perang berskala global. Kepentingan lah yang berbicara di sana, Rusia dengan segala kecanggihan yang dimiliki dalam alutsistanya tentu ada kepentingan yang ingin di raih dan ketamakan dalam diri setiap pihak harus lah di bendung. Tentu masa depan akan berterimakasih.











0 Comments