Apa Jadinya Kalau Dunia Didominasi AI Governance System?

Uploaded by ZakaFahmi

January 14, 2023

Apa Jadinya Kalau Dunia Didominasi AI Governance System?

Karya : Muhamad Fikri Asy’ari

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Email : fikriasyari92@gmail.com

Memasuki era Society 5.0 merupakan sebuah konsep untuk memudahkan aktivitas manusia dengan pelibatan teknologi yang mutakhir. Salah satunya ialah Aritficial Intelligence (AI) atau Kecerdasan Buatan yang kemampuannya dapat menyaingi manusia itu sendiri. Wah menarik ya, tapi kira-kira apa sih yang menjadi ancaman untuk manusia? Yuk simak di bawah ini. 

Dilansir dari Britannica, AI merupakan kemampuan digital yang dikendalikan oleh komputer atau robot dengan pemenuhannya melalui algoritma. AI dibentuk sedemikian rupa untuk meminimalisir human error dan menciptakan sistem yang dapat melakukan berbagai tugas yang kompleks serta tersedia secara 24 jam. Terlebih, AI telah bergeliat dalam berbagai sektor kebutuhan manusia, seperti kesehatan, pendidikan, hingga pariwisata. Industri, lembaga, perusahaan bahkan politik sekalipun telah menerapkan AI dalam membantu pekerjaannya. 

Tahun lalu, tepatnya pada bulan Mei, kolektif seniman Computer Lars bersama organisasi seni dan teknologi nirlaba Mind Future Foundation di Denmark mendirikan sebuah partai politik dengan nama The Synthetic, yang dioperasikan oleh AI. Layaknya siri dalam Iphone, pemimpin dari parpol ini atau ramai disebut Leaders Lars, dapat diajak berbicara oleh orang-orang melalui Discord. Hal tersebut diprogram berdasarkam kebijakan partai sejak 1970 dan difokuskan untuk mewakili 20 persen suara warga yang tidak memberikan suara pada pemilu.

Partai The Synthetic pun mengklaim telah mengusulkan kebijakan dalam pemberian uang dari pemerintah secara cuma-cuma kepada seluruh masyarakat tanpa terkecuali (universal basic income), sebesar 100.000 kroner Denmark per bulan. Ini dinilai setara dengan $13.700 dan lebih dari dua kali gaji rata-rata di negara tersebut. Selain itu, The Synthetic merupakan sebuah misi untuk meningkatkan wawasan dan kesadaran akan peran AI dengan diciptakannya sektor internet dan IT bersama. 

Baca juga :   Sistem Pembelajaran Berbasis E-learning Selama Pandemi Covid-19 Sebagai Bukti Nyata Kemajuan Teknologi 

Asker Staunæs, seorang peneliti di Mind Future dan pencipta partai mengklaim bahwasanya partai The Synthetic berbeda dengan ‘politisi virtual’, seperti Alisa dari Rusia dan SAM dari Selandia Baru. Kedua ‘politisi virtual’ tersebut merupakan bot AI yang dapat diajak berbicara oleh para pemilih. Partai The Synthetic lebih mengedepankan pemanfaatan AI kepada manusia dan tidak mesentralkan tokoh dalam bentuk AI. Pada akhirnya, partai The Synthetic menjadi salah satu contoh terhadap adanya penggunaan AI dalam dunia politik. Walaupun dinilai belum sukses dalam memberikan pengaruhnya di parlemen, setidaknya dapat menjadi bukti sebuah optimalisasi terhadap nilai demokrasi. Sebagai bentuk kebebasan berpendapat, berpikir, dan berekspresi melalui pelibatan teknologi.

Fenomena ini kemudian didukung dengan tayangan pada platform youtube berjudul “Manusia Menjadi Tuhan, Gara-Gara Teknologi” oleh Vian Flash. Telah mencuatkan pengandaian yang lebih besar, yaitu “apakah mungkin dunia dapat didominasi dengan AI governance system?”. Dimana, seluruh pemerintahan dan masyarakat di dunia bersatu dan sepakat untuk membuat sistem AI untuk mengkontrol peradaban manusia yang berbasis pada dasar-dasar kemanusiaan dan mengedepankan prinsip alam. Keadaan ini dilatar belakangi juga karena permasalahan-permasalahan umat manusia yang sulit dientaskan, seperti ketimpangan antar negara, kemiskinan yang merajalela, perpecahan, korupsi, climate change dan sebagainya. AI akan lebih menyamaratakan antar individu, berlaku adil, menghilangkan kepentingan dalam pemerintahan hingga mengutamakan teknologi yang ramah lingkungan dan mudah dalam pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, dan papan manusia. 

Selain itu, seluruh manusia akan teregistrasi dalam sebuah chip sebagai kartu tanda pengenal yang disimpan secara sistematik dalam data base. Keuntungannya, umat manusia akan mudah hilir mudik ke seluruh wilayah di bumi tanpa melewati keimigrasian, sebab perbatasan negara akan sirna. Pengiriman paket akan tersedia dengan cepat bahkan hanya sekali klik pemesanan. 

Baca juga :   Perkembangbiakan Teknologi Pada Smartphone 

Kehidupan akan dipenuhi dengan lalu lalang robot, dunia virtual tidak akan mudah dibedakan dengan realitas. Namun, dengan berbagai kemudahan yang disuguhkan, AI tidak bisa merasakan dan menampilkan ekspresi perilaku layaknya manusia. Dan ‘mungkin’ saja dapat menimbulkan bahaya, AI dapat berlaku dengan sendirinya dengan melewati batas yang sudah ditentukan, sebab teknologi tidak menutup kemungkinan dapat menimbulkan kesalahan pada sistem.  

Meskipun begitu, manusia tidak dapat dengan lepas begitu saja menyerahkan seluruhnya kepada AI, manusia masih perlu dilibatkan dalam kontrol AI untuk meminimalisir error dalam sistem. Setidaknya, kedua belah pihak baik AI atau manusia akan saling melengkapi dan membenahi apabila terjadinya system error maupun human error. Sehingga, AI dan manusia menjadi teman yang ‘akrab’. Memang, penjelasan artikel ini bak film sains fiksi, seperti Ex Machina dan Terminator. Namun, semua hal ini dan film sains fiksi tersebut dapat terjadi apabila umat manusia memasuki fase teknologi yang semakin canggih. Jadi, menurut kalian apakah AI governance system bisa menggantikan peran manusia dalam pemerintahan manusia? Sila berkomentar dan membukakan pemikiran kita. 

 

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *