Teknologi dan Wacana Eternalitas: Sebuah Penjernihan dan Optimisme Menjemput Kematian

Uploaded by ZakaFahmi

March 20, 2023

Teknologi dan Wacana Eternalitas: Sebuah Penjernihan dan Optimisme Menjemput Kematian

Khoirul Imamil M 

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

ibnuzaenuri992@mail.ugm.ac.id

Menginjak abad keduapuluh satu ini, salah satu karya fenomenal yang banyak menarik atensi publik ialah Homo Deus, karya penulis sekaligus sejarawan berkebangsaan Israel, Yuval Noah Harari. Lewat bukunya ini, Harari memaparkan masa depan manusia yang kian “pede” dengan proyek-proyek eternalitas (keabadian) -nya. Bagi Harari dan penulis-saintis yang sebendera dengannya, kehadiran teknologi yang terus berkembang merupakan wajah cerah bagi misi penciptaan generasi “super”. Generasi “super” ialah mereka yang memiliki beragam kecerdasan tak terbatas sekaligus kemampuan kerja ganda sehingga mampu meningkatkan daya produksi. Tak tanggung-tanggung, mereka bahkan diproyeksikan untuk bisa kalis tak terendus oleh hidung malaikat pencabut nyawa.

Namun, sungguhkah misi semacam ini benar-benar akan terwujud? Bagi para pemeluk agama, mayoritas tentu akan sepakat bahwa bagaimanapun eksistensi manusia di muka bumi ini akan mencapai purna. Baik penganut agama apapun, semua mempercayai kematian. Bahkan, individu atau kelompok yang menolak paham ketuhanan pun juga percaya bahwa kematian merupakan sesuatu yang pasti. Secara fisik, kita sebagai manusia merasakan sendiri adanya penurunan energi, daya tahan tubuh, serta kemampuan melakukan kerja dan berpikir seiring bertambahnya usia. Kita cenderung menjadi lemah (dhaif) dan payah seperti halnya saat kita belia dahulu. Pendengaran kita makin memburuk, penglihatan kita kian kabur, kulit semakin mengkerut, gigi mulai tanggal satu persatu, hingga akhirnya kita kembali ke pembaringan dalam kesakitan tua.

Kehadiran teknologi yang digadang-gadang mampu menghasilkan beragam produk peningkat peremajaan usia nyatanya kini justru lebih banyak berkecimpung dalam aktivitas pengobatan. Artinya, hal ini menunjukkan bahwa semakin kesini orang justru kian rentan terhadap penyakit. Sebagai contoh, saat pandemi lalu, kita tentu tahu betapa banyak jumlah korban meninggal akibat terserang virus ini. Meski kebanyakan korban meninggal berasal dari kalangan “senja”, tak dimungkiri bahwa sampai detik ini kita masih gagal dalam mewujudkan keabadian. Di saat yang bersamaan, kita justru dihadapkan pada beragam fenomena dan situasi yang mengancam potensi keabadian kita. Bencana alam, penyebaran virus dan penyakit, hingga perang antar negara merupakan kejadian yang kita dengar (atau malah kita alami) beritanya saban hari. Kita kian was-was dan khawatir, kalau-kalau saat kita asyik mengetik di hadapan layar komputer, tetiba gempa datang dan kita gagal menyelamatkan diri. Apa jadinya? Tentu tak perlu benar-benar kita bayangkan.

Baca juga :   Artikel Teknologi by Miranda Marsela Putri

Optimisme yang ditawarkan teknologi dengan kemampuannya menjanjikan beragam potensi eternalitas memang agaknya telah membius siapapun. Kemapanan yang ia bangun secara mantap berhasil menggungah beragam impian manusia untuk kian tak terbatas (unlimited) bak kuota internet. Namun, sedahsyat apapun teknologi bertransformasi, tetap saja kematian merupakan sesuatu yang tak dapat terhindarkan. Misi memperpanjang usia harapan hidup yang kini dikembangkan oleh berbagai ilmuwan dari negara-negara maju hanya akan menyisakan dunia yang kian penuh dengan populasi manusia. Bukannya kian membaik, kondisi demikian justru akan membuat dunia semakin masif dieksploitasi demi mensuplai kebutuhan manusia. Tak ayal, kita pun kembali ke paradigma lama soal lingkungan dan bumi. Yakni, bumi dan kekayaan yang terkandung di dalamnya sepenuhnya disediakan untuk kita. Mengerikan, bukan?

Sejatinya, kematian sebagai bagian dari kehidupan tak perlu dihindari dan dirisaukan kita. Bila kita mau berpikir jernih, kematian sebenarnya merupakan suatu jalan mulus menuju kebebasan yang hakiki (the real liberty). Dengan kematian, kita tak lagi  harus risau dengan tanggungan pekerjaan, cicilan mobil, kemacetan lalu lintas, konflik rumah tangga, cekcok pertemanan, putus cinta, serta beragam beban lain. Toh, selama ini kita juga tak selalu bergembira dalam hidup. Seringkali, kita merasa bosan dengan laku hidup yang monoton. Tak mengherankan bila banyak yang memilih mengakhiri hidupnya lebih dini lantaran enggan berlama-lama menanggung beban hidup.Tentu bunuh diri merupakan pilihan yang tak cukup bijak. Ketimbang menyakiti diri sendiri, tentu lebih baik menjalani hidup selayaknya kereta api yang selalu berada di jalur relnya. Kapanpun waktunya, ia tentu akan sampai di stasiun pemberhentian. Kesadaran semacam ini akan membuat kita optimis menatap kematian. Bukan lagi sebagai sesuatu yang menakutkan, kematian perlu dipandang sebagai sarana terbaik untuk abadi menikmati hidup yang sejati.

Baca juga :   PEMBELAJARAN BERNUANSA ETNOMATEMATIKA

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *